SELAMAT DATANG DI PORTAL DARI MAHASISWA AWAK UNTUK INDONESIA                                                           DAPATKAN BERBAGAI TULISAN DAN OPINI TENTANG ISLAM, MINANGKABAU, NASIONAL DAN INTERNASIONAL, DUNIA MAHASISWA DAN YANG LAINNYA DI SINI                                                                                                                     

Sekilas Mengenai COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission)

by ridho zulandra 0 komentar


Pengertian COSO

COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) sebuah framework yang dibuat oleh sector swasta untuk menghindari tindak korupsi yang sedang marak terjadi di Amerika pada tahun 1970-an. COSO berkaitan dengan FCPA yang dikeluarkan oleh SEC dan US Congress pada tahun 1977 yang bertujuan untuk melawan fraud dan korupsi yang sedang maraknya terjadi di Amerika tahun 70-an. Yang membedakannya adalah FCPA merupakan inisiatif dari eksekutif-legislatif, sedangkan COSO merupakan inisiatif dari sektor swasta.

Sektor swasta ini membentuk ‘National Commission on Fraudulent Financial Reporting’ atau dikenal juga dengan ‘The Treadway Commission’ di tahun 1985. Komisi ini disponsori oleh 5 professional association yaitu: AICPA (The American Institute of Certified Public Accountants), AAA (The American Accounting Association), FEI (Financial Executives International) ,IIA (The Institute of Internal Auditors), IMA (The Institute of Management Accountants). Tujuan komisi ini adalah melakukan riset mengenai fraud dalam pelaporan keuangan (fraudulent on financial reporting) dan membuat rekomendasi2 yang terkait dengannya untuk perusahaan publik, auditor independen, SEC, dan institusi pendidikan.v v        

Misi utama dari COSO adalah  “Memperbaiki/meningkatkan kualitas laporan keuangan entitas melalui etika bisnis, pengendalian internal yang efektif, dan corporate governance. COSO mengembangkan studi mengenai sebuah model untuk mengevaluasi pengendalian internal. Pada tehun 1992, telah diselesaikan studi tersebut dengan memperkenalkan sebuah “kerangka kerja pengendalian internal” yang akhirnya menjadi sebuah pedoman bagi para eksekutif, dewan direksi, regulator, penyusun standar, organisasi profesi , dan lainnya sebagai kerangka kerja yang komprehensif untuk mengukur efektifitas pengendalian internal.

Framework lain yang sejenis

COBIT

Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).

COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab (Tanuwijaya dan Sarno, 2010).

COBIT merupakan standar yang dinilai paling lengkap dan menyeluruh sebagai framework IT audit karena dikembangkan secara berkelanjutan oleh lembaga swadaya profesional auditor yang tersebar di hampir seluruh negara. Dimana di setiap negara dibangun chapter yang dapat mengelola para profesional tersebut.

Perbedaan COSO dan COBIT

CoBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
1. Fokus Pengguna Utama adalah manajemen, operator dan auditor sistem informasi.
2. Sudut pandang atas internal control adalah kesatuan beberapa proses yang terdiri atas kebijakan, prosedur, penerapan serta struktur organisasi.
3. Tujuan yang ingin dicapai dari sebuah internal control adalah pengoperasian sistem yang efektif dan efisien, kerahasiaan, kesatuan dan ketersediaan informasi yang dilengkapi dengan sistem pelaporan keuangan yang handal disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
4. Komponen/domain yang dituju adalah perencanaan dan pengorganisasian, pemaduan dan penerapan, pengawasan atas dukungan serta pendistribusian.
5. Fokus pengendalian dari CoBIT adalah sisi teknologi informasi.
6. Evaluasi atas internal control ditujukan atas seberapa efektif pengendalian tersebut diterapkan dalam periode waktu yang sudah ditetapkan.
7. Pertanggungjawaban atas sistem pengendalian dari CoBIT ditujukan kepada manajemen.

COSO (Committee of Sponsoring Organizations)
1. Fokus Pengguna Utama adalah manajemen.
2. Sudut pandang atas internal control adalah kesatuan beberapa proses secara umum.
3. Tujuan yang ingin dicapai dari sebuah internal control adalah pengoperasian sistem yang efektif dan efisien, pelaporan laporan keuangan yang handal serta kesesuaian dengan peraturan yang berlaku.
4. Komponen/domain yang dituju adalah pengendalian atas lingkungan, manajemen resiko, pengawasan serta pengendalian atas aktivitas informasi dan komunikasi.
5. Fokus pengendalian dari eSAC adalah keseluruhan entitas.
6. Evaluasi atas internal control ditujukan atas seberapa efektif pengendalian tersebut diterapkan dalam poin waktu tertentu.
7. Pertanggungjawaban atas sistem pengendalian dari eSAC ditujukan kepada manajemen.

Konten dari COSO

Dijelaskan ada 8 komponen dalam Enterprise Risk Management, yaitu:

1. Lingkungan Internal (Internal Environment), Sangat menentukan warna dari sebuah organisasi dan memberi dasar bagi cara pandang terhadap risiko dari setiap orang dalam organisasi tersebut. Didalam lingkungan internal ini termasuk, filosofi manajemen risikodan risk appetite, nilai-nilai etika dan integritas, dan lingkungan dimana kesemuanya tersebut berjalan.               
Risk Management Philosophy – Risk Appetite – Board of Directors – Integrity and Ethical Values         Commitment to Competence –Organizational Structure – Assignment of Authority andResponsibility – Human Resource Standards


2. Penentuan Tujuan (Objective Setting), tujuan perusahaan harus ada terlebih dahulusebelum manajemen dapat mengidentifikasi kejadian-kejadian yang berpotensi mempengaruhi dalam pencapaian tujuan tersebut. ERM memastikan bahwa manajemen memiliki sebuah proses untuk menetapkan tujuan dan tujuan tersebut terkait serta mendukung misi perusahaan dan konsisten dengan risk appetite-nya.
Strategic Objectives – Related Objectives – Selected Objectives – Risk Appetite – Risk Tolerances

3. Identifikasi Kejadian (Event Identification), Kejadian internal dan eksternal yang mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan harus diidentifikasi, dan dibedakan antara risiko dan peluang yang dapat terjadi. Peluang dikembalikan kepada proses penetapan strategi atau tujuan manajemen.vents – Influencing Event Interdependencies – Event Categories – Distinguishing Risks and Opportunities

4. Penilaian Risiko (Risiko Assessment), Risiko dianalisis dengan memperhitungkan kemungkinan terjadi (likelihood) dan dampaknya (impact), sebagai dasar bagi penentuan pengelolaan risiko
Inherent and Residual Risk – Establishing Likelihood and Impact – Data Sources – Assessment Techniques – Event

5. Respons Risiko (Risk Response), manajemen memilih respons risiko, menghindar, menerima, mengurangi, mengalihkan, dan mengembangkan suatu kegiatan agar risiko yang terjadi masih sesuai dengan toleransi dan risk appetite.
Evaluating Possible Responses – Selected Responses – Portfolio View


6. Kegiatan Pengendalian (Control Activities), kebijakan serta prosedur yang ditetapkan dan diimplementasikan untuk membantu memastikan respons risiko berjalan dengan efektif.Integration with Risk Response – Types of Control Activities – Policies and Procedures – Controls over Information Systems – Entity Specific

7. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication), Informasi yang relevan diidentifikasi, ditangkap, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan waktu yang memungkinkan setiap orang menjalankan tanggung jawabnya
Information – Communication

8. Pengawasan (Monitoring), Keseluruhan proses ERM dimonitor dan modifikasi dilakukan apabila perlu. Pengawasan dilakukan secara melekat pada kegiatan manajemen yang berjalan terus-menerus, melalui evaluasi secara khusus, atau dengan keduanya.
Ongoing Monitoring Activities – Separate Evaluations – Reporting Deficiencies

Ruang lingkup penggunaan COSO

Ruang lingkup COSO adalah organisasi atau perusahaan. Didalam dokumen COSO dikatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam pengendalian internal adalah dewan komisaris, manajemen, dan pihak-pihak lainnya yang mendukung pencapaian tujuan organisasi. COSO menyatakan Pengendalian Internal merupakan partisipasi dari semua stakeholder (pemangku kepentingan) entitas yang meliputi seluruh/semua area atau fungsi dari bisnis entitas.

 

Referensi
Pengertian dan Komponen COSO Framework. Diambil Oktober 20, 2013 dari http://sciencebooth.com/2013/05/21/pengertian-dan-komponen-coso-framework/.
Enterprise Risk Management – Integrated Framework, Application Techniques (2004, September)

Makalah dengan Judul Audit Kinerje TI Fasilkom dengan COBIT (Adi Guna Darmadi, Jurusan Sistem Informasi, Fasilkom Unsri, 2009)


ASEAN Economic Community, Apakah Menguntungkan atau Merugikan Indonesia?

by ridho zulandra 2 komentar



Sebelumnya pasti banyak yang bertanya-tanya apa itu AEC (ASEAN Economic Community)? ASEAN Economic Community merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Negara – negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam artian terbuka untuk melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. AEC direncakan terbentuk pada tahun 2015.

Yang menjadi latar belakang terbentuknya AEC tersebut adalah membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan kompetitif dengan pembangunan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan disparitas sosial ekonomi antar negara di ASEAN (ASEAN Vision 2020). Selain itu diharapkan kedepannya ASEAN dapat menjadi penyedia factor produksi bagi negara – negara di seluruh dunia. ASEAN tidak hanya sebagai pasar untuk produk – produk dari negara – negara Eropa, Amerika maupun Asia TImur.

Dengan diberlakukannya AEC tiap – tiap negara akan terintegrasi dalam bidang produksi untuk meningkatkan efisiensi. Kerjasama pelaku produksi antar negara akan semakin berkembang untuk menciptakan efisiensi dengan nilai tinggi. Pelaku produksi tidak perlu untuk memproduksi semua jenis barang untuk kebutuhannya sendiri.

Pengaruhnya bagi Indonesia   

AEC akan meningkatkan nilai kompetitif negara – negara ASEAN untuk menyediakan produk yang memiliki kualitas tinggi. Produk berkualitas tinggi akan menghimpit yang berkualitas rendah dan lama kelamaan akan ditinggalkan konsumen. Sekarang pertanyaannya apakah sector usaha di Indonesia sudah siap untuk hal tersebut ?

Berdasarkan data World Economy Forum (WEF), pada tahun 2008 daya saing Indonesia berada pada urutan 55 dunia, sedangkan pada tahun 2012 berada pada urutan 50. Peringkat tersebut sangat jauh terpaut dari Singapura yang berada pada peringkat 3 dunia, Malaysia 25 dunia dan Thailand 38 dunia.

Berdasarkan hal tersebut wajar kalau kita semua memberikan perhatian khusus. Pemerintah dan pelaku produksi harus bekerjasama agar Indonesia tidak kalah dari negara lain. Harus ada upaya – upaya tertentu agar meningkatkan daya saing Indonesia. Tidak cukup dengan slogan “cintailah produk Indonesia” yang sedang digembar – gemborkan pemerintah saat ini. Harus ada peningkatan kualitas juga. Kalau saja sampai sector usaha Indonesia dihimpit, bayangkan berapa banyak pengangguran karena usaha mereka gulung tikar.
Selain dari sisi bidang produksi tersebut, factor yang tak kalah pentingnya adalah kualitas SDM di Indonesia. Berdasarkan data BPS 6  Februari 2012, dari 109 juta jiwa tenaga kerja yang ada di Indonesia, 54,2 jutanya hanya lulusan SD. Bisa dibayangkan rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Masih sedikit masyarakat Indonesia yang menjadi ahli di bidangnya.

AEC mengakibatkan tenaga kerja dari luar negeri akan lebih mudah bermigrasi ke Indonesia. Mereka yang memiliki keahlian di atas keahlian SDM Indonesia tentunya akan lebih mudah mendapat pekerjaan di perusahaan yang ada di Indonesia dan menggeser tenaga kerja Indonesia sendiri. Lagi – lagi akan semakin banyak penganguran.

Akan tetapi lain halnya apabila sector usaha Indonesia dan kualitas SDM di Indonesia dapat mengungguli negara lainnya, produk – produk Indonesia akan semakin mudah untuk go internasional, perkembangannyapun akan semakin pesat dan tentunya profit yang didatangkan akan semakin optimal. dan akan lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang berhasil diserap.

Terlepas dari dampak positif dan negative tersebut, yang lebih penting adalah bagaimana bisa meningkatkan kualitas produk dan SDM Indonesia agar mampu bersaing di ASEAN.

---------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi :
http://www.kemenperin,go,id/artikel/6317/Kadin-Ragukan-Kesiapan-RI-Sambut-AEC-2015
http://bem.feb.ugm.ac.id/?p=109


Tutorial Koneksi Database SQL Server menggunakan ASP.NET

by ridho zulandra 2 komentar


Ultras, fenomena suporter sepakbola yang menjadi tren di Indonesia saat ini

by ridho zulandra 1 komentar

Ada banyak paham suporter yang berkembang di dunia saat ini, di antaranya Hooligan, Ultras, Mania dan yang lainnya. Kali ini yang akan menjadi fokus pembahasan pada paham Ultras, Ultras berasal dari bahasa latin yang berarti di luar kebiasaan. Ultras identik dengan para suporter sepakbola yang berasal dari negara Itali. Namun, akhir-akhir ini, paham ultras itu sendiri sudah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia yang terkenal sebagai salah satu negara yang mempunyai suporter paling fanatik di dunia.



Paham ultras di Indonesia yang terkenal pertama kali dipelopori oleh Brigata Curva Sud 1976, sebuah kelompok suporter tim sepakbola PSS Sleman. Kelompok ini cenderung menjadi percontohan dalam berdirinya kelompok ultras lainnya.  Beberapa saat setelah itu, muncullah kelompok-kelompok ultras lainnya dari klub-klub sepakbola Indonesia yang lainnya seperti Green Nord '27 suporter Persebaya Surabaya, Curva Nord Pekanbaru suporter PSPS Pekanbaru, Ultras Persija Sektor 5 suporter Persija Jakarta, Ultras West Sumatera 1980 suporter Semen Padang FC dan yang lainnya. Mereka menamakan kelompok mereka dengan menyertai embel-embel yang menunjukkan identias tim mereka, seperti pada contoh di atas Green Nord, Green '27 yang identias dengan Persebaya, Curva Nord Pekanbaru, Pekanbaru kota dimana klub PSPS berada, Ultras Persija Sektor 5, nama tim mereka Persija Jakarta, Ultras west Sumatera 1980 yang berarti tanggal kelahiran Semen Padang FC, dan Brigata Curva Sud 1976, 1976 tahun kelahiran PSS Sleman.


Kebanyakan dari kelompok-kelompok tersebut berpakain hitam walaupun tim yang mereka dukung bukanlah hitam, Di saat tim yang mereka cintai sedang bertadning, mereka selalu menyanyikan yel-yel untuk memberikan dukungan kepada tim mereka. Yel-yel tersebut biasanya berbahasa Itali walaupun mereka adalah orang Indonesia asli. Mereka menamakan kelompok mereka sebagai komunitas, bukan sebuah organisasi yang artinya tidak ada sebuah aturan-aturan atau sistem kepengurusan tertentu dalam interen kelompok mereka. 
Di dalam stadion, para ultras tersebut selalu berdiri di tribun utara atau selatan dengan menggunakan giant flag, flares. Beberapa dari kelompok ultras di Indonesia masih menjadi bagian dari kelompok suporter yang lebih dahulu berdiri, seperti Green Nord '27 bagian dari Bonek dan  Ultras Persija Sektor 5 bagian dari The Jak Mania. Akan tetapi ada juga yang sudah berpisah atau berdiri sendiri, seperti Brigata Curva Sud, Curva Nord Pekanbaru dan Ultras West Sumatera 1980
Berikut adalah beberapa dari kelompok ultras yang telah berdiri hingga saat ini :
- Curva Boys 1967 (persela lamongan)
- Curva sud Arema (Arema Indonesia)
 - Ultras de Patriot of Soebex Mania (persipasi kota bekasi)
- Bomber Ultrasud Familia (Persib Bandung)-
- BCS 1976 (PSS Sleman)
- Brigata Militan Extreme Rossoblu '28 (PSBI Blitar)
- Brigata Orange Boys, Curva Nord '28 / Ultras Persija Sektor 5 (Persija Jakarta)
- Brigate Curva Nord 1950 (Persik Kediri)
- Brigate Curva Sud 1973 (Persikabo)
- Curva Boys 1967 (Persela Lamongan)
- Curva Nord Famiglia X 1967 (Persiba Bantul)
- CurvaNord 1949 (Persibo Bojonegoro)
- Curva Nord Familia / Pasoepati Ultras 1923 (Persis Solo)
- Green Nord '27 (Persebaya Surabaya)
- Squadra Macan Tidar "Ex Ultras 1919" (Ppsm Magelang)
- Ultras Bodem 1934 (Persiku Kudus)
- Ultras Curva Nord 1950 (PSCS Cilacap)
- Ultras bodem(Persiju kudus)
- Ultras curva sud Gresik 1999 (Gresik United/Persegres Gresik)
- Ultras Karawang 1986 (Pelita Jaya FC) (almrh./RIP )
- Ultras Mataram 1930 (PSIM Jogja)
- Ultras Mojopahit (PSMP Mojokerto)
- Ultras West Sumatra 1980 (Semen Padang FC)


Dengan lahirnya paham ultras di Indonesia tersebut memberikan warna baru bagi dunia persepakbolaan di Indonesia. Ada sisi positif dan negatif yang muncul dari fenomena ultras tersebut, namun sudah seharusnya kita menyikapinya secara bijak.



Museum Adityawarman, warisan budaya yang mulai ditinggalkan

by ridho zulandra 1 komentar

Bagi masyarakat Sumatera Barat, pada saat memasuki musim liburan banyak keluarga yang menghabiskan waktunya di berbagai tempat wisata, baik itu wisata alam seperti puncak, kebun teh, panorama maupun wisata buatan seperti water park, taman rekreasi dan pusat perbelanjaan. Kebanyakan dari mereka bertujuan untuk mencari hiburan atau sekedar merefreshkan pikiran dari kegiatan rutin yang selama ini mereka lakukan. Namun ada satu tempat yang saat ini sangat jarang menjadi tujuan wisata, yaitu Museum Adityawarman.


Museum yang berlokasi di jalan Diponegoro no 10, Kota Padang ini sudah keliatan tidak ramai lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Animo masyarakat untuk mengunjunginya sudah dikalahkan oleh tempat-tempat wisata lainnya. Sehingga baik dalam musim liburan maupun hari-hari biasa museum ini tetap sepi pengunjung, hanya beberapa orang saja tiap harinya.
Padahal sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari di sana. Ada banyak ulasan budaya dan sejarah Minangkabau di dalamnya, seperti makanan-makanan khas daerah Minangkabau, pakaian-pakaian untuk berbagai acara adat, peta kanagarian, maupun benda-benda peninggalan sejarah. Terdapat 10 macam jenis koleksi di dalamnya, yaitu Historika, Etnografika, Geologikal, Biologikal, Keramalogika, Arkeologika, Teknalogika, Numismatika, Fitologika dan Seni Rupa. 



Museum yang diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977 oleh Mendikbud, Prof. DR. Syarif Thayeb ini berada di bawah wewenang pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat. Museum ini terletak di sebelah ujung utara di dalam taman melati, Padang. Di halaman depannya terdapat taman dan dihiasi dengan sebuah kolam. Pada tangga masuk museum ada patung-patung laki-laki dan perempuan yang sedang mengenakan pakaian adat sebagai simbol selamat datang dan pada sebelah kiri dan kanan museum juga terdapat rangkiang. Nama museum ini diambil dari nama salah seorang raja yang pernah berkuasa di Minangkabau, yaitu Adityawarman, pada tahun 1347 - 1375, semasa dengan kerajaan Majapahit. 
Melihat begitu banyaknya ilmu dan catatan sejarah dari museum ini tidak ada salahnya apabila masyarakat Sumatera Barat menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata utama keluarga, wisata Sumatera Barat umumnya Padang khususnya.


Picmix, aplikasi foto asal Indonesia siap menandingi Instagram

by ridho zulandra 1 komentar

Mungkin kebanyakan orang hanya mengenal Instagram sebagai aplikasi photo sharing. Namun, sebenarnya masih banyak lagi aplikasi-aplikasi lainnya yang tidak kalah menarik dibanding Instagram. Aplikasi-aplikasi tersebut menyediakan berbagai fitur edit foto layaknya Photoshop yang berada di smart phone dan sharing photo kepada sesama pengguna maupun ke jejaring sosial, seperti facebook atau path. Di antaranya adalah Picmix. 



Aplikasi yang dikembangkan oleh  Invoidea Magna Global ini mempunyai kelebihan dibanding Instagram, yaitu dapat digunakan pada platform Blackberry, sedangkan Instagram tidak. Selain itu, juga tersedia pada platform Android. Aplikasi ini memiliki 400 efek foto gratis di dalam fitur-fiturnya. Selain itu, pengguna juga dapat membeli frame dan efek foto di toko aplikasinya. Kemudian, pada aplikasi ini tersedia fitur fun centre sebagai tempat permainan dan fitur popular untuk melihat foto-foto yang paling terkenal.





Picmix pertama kali dikembangkan untuk Blakcberry OS5. Kemudian merambah pada OS6, 7 dan 10. Setelah melihat tingginya minat pengguna, Picmix mulai berkembang untuk platform Android dan rencananya juga akan dikembangkan untuk platform Windows Phone dan iOS pada bulan Juli mendatang. Hingga kini sudah lebih dari 10 juta yang menggunakan aplikasi ini, yang tersebar di seluruh dunia. Selain Indonesia, pengguna terbanyak pada Venezuela, Afrika Selatan, Filipina dan Thailand.
Pengembang terinspirasi untuk membuat aplikasi ini karena kecintaannya kepada dunia fotografi, ditambah perkembangan smartphone saat ini yang sangat potensial untuk menjadi peluang yang menguntungkan. 


Followers