SELAMAT DATANG DI PORTAL DARI MAHASISWA AWAK UNTUK INDONESIA                                                           DAPATKAN BERBAGAI TULISAN DAN OPINI TENTANG ISLAM, MINANGKABAU, NASIONAL DAN INTERNASIONAL, DUNIA MAHASISWA DAN YANG LAINNYA DI SINI                                                                                                                     
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan

Google Fiber, menguntungkan atau merugikan Indonesia ?

by ridho zulandra 6 komentar


Mungkin beberapa orang telah mengetahui produk Google yang satu ini. Baru-baru ini Google meluncurkan produk terbarunya yaitu Google Fiber, sebuah layanan konektivitas internet dan TV berbayar. Google Fiber menggunakan Fiber Optic sebagai media komunikasinya. Dengan menggunakan Fiber Optic, proses transfer data menjadi lebih efektif dan efisien daripada menggunakan media lainnya seperti udara atau kabel telepon biasa. Kecepatan transfer data dapat meningkat berkali-kali lipat dan juga lebih stabil. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa media fiber optic merupakan media terbaik sebagai media transfer data.

Biaya yang dibutuhkan untuk membangun insfrastruktur jaringan fiber optic tidaklah sedikit karena kebanyakan fiber optic harus tertanam di dalam tanah, tidak seperti media udara yang tidak membutuhkan ruang khusus dan media kabel telepon yang hanya digantung di udara melalui sebuah tiang penyangga. Setiap tempat yang akan dilewatkan fiber optic harus dilakukan penggalian terlebih dahulu sebelum menanamnya ke dalam tanah. Hal itulah yang menjadikan layanan konektivitas internet dengan mengguankan fiber optic ini biasanya jauh lebih mahal dibandingkan menggunakan media yang lainnya.

Namun, produk baru yang ditawarkan Google ini tidalah begitu mahal seperti sebagaimana mestinya. Google hanya  mematok biaya $80/bulan untuk layanan internet dan $120/bulan untuk layanan internet dan Tv berbayar. Biaya yang setara dengan layanan internet dengan menggunakan kabel telepon biasa. Akan tetapi kecepatan akses internet yang didapat dari Google Fiber tersebut bukan main, yaitu 1 Gbps. Sebuah konektivitas dengan kecepatan super tinggi. Bandingkan dengan kecepatan akses internet rata-rata yang dirasakan penduduk Indonesia saat ini yang hanya 4,1 Mbps atau 1/244 kalinya dari kecepatan yang ditawarkan Google Fiber. Dengan kecepatan tersebut, download film HD yang biasanya membutuhkan waktu 25 - 30 menit, sekarang hanya butuh beberapa detik saja. Sedangkan kalau dibandingkan dengan layanan konektivitas internet media Fiber Optic dari provider lokal terbesar dan terbaik di Indonesia saat ini, dengan kecepatan 30 Mbps dibutuhkan biaya lebih kurang Rp 76 juta/bulan.

Akan tetapi, untuk saat ini Google Fiber hanya menjangkau wilayah USA saja, belum seluruh dunia. Namun, suatu saat layanan ini pasti bisa menjangkau seluruh dunia. Sekarang bayangkan apa yang terjadi ketika Google Fiber memasuki Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia pasti berpaling menggunakannya dan meninggalkan layanan internet yang digunakan saat ini. Keuntungan yang berlipat-lipat akan dirasakan masyarakat Indonesia. Namun, bagaimana dengan provider internet lokasl Indonesia? Sebut saja Telkom Indonesia, Indosat, Bakrie Telecom, Bizz Net, First Media dan provider-provider lainnya, pasti akan mengalami kebangkrutan alias gulung tikar karena ditinggalkan pelanggan yang selama ini menggunakan jasa mereka. Sebuah kerugian yang amat sangat besar.


Jadi, apakah Google Fiber menguntungkan atau malah merugikan Bangsa Indonesia? Biarlah masing-masing kita menjawabnya.


Jejaring Sosial Anak Bangsa Menembus Pasar Internasional

by ridho zulandra 1 komentar


Setiap orang pasti sudah mengenal situs yang namanya jejaring sosial. Jejaring sosial akhir-akhir ini bukan hanya sekedar buat gaya-gayaan, akan tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Tercatat pengguna seluruh jenis jejaring sosial di dunia sudah mencapai puluhan milyar akun.

Dan dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang angka yang cukup besar. Diantara banyak jenis jejaring sosial yang paling diminati banyak berasal dari negara di luar Indonesia, seperti Facebook dan Twitter yang berasal dari negara Amerika, Me2everyone yang berasal dari negara Inggris dan sebagainya.

Sungguh hal yang sangat disayangkan apabila jumlah peminat jejaring sosial di Indonesia yang begitu banyak tidak diimbangi dengan tidak adanya situs jejaring sosial yang berasal dari anak negeri kita sendiri. Sangat merugikan sekali karena keuntungan-keuntungan dari penyediaan jejaring sosial tersebut hanya tersalur ke luar Indonesia. Hal itulah yang mendasari Fajar Budiprasetyo, Satria Witoelar dan Daniel Armanto untuk mendirikan sebuah situs jejaring sosial yang bernama Koprol.

Selain untuk merauk keuntungan, Koprol juga didirikan dengan tujuan untuk membantu pengguna dalam menemukan orang-orang dan mencari tempat-tempat baru yang menarik di dunia, khususnya di Indonesia sendiri. Koprol diambil sebagai nama dari situs jejaring sosial tersebut karena mengandung arti orang yang menggelinding, sesuai dengan target pengguna Koprol tersebut, yaitu orang yang mobile, dapat berpindah-pindah ke berbagai tempat.

Dalam perjalanannya, perkembangan Koprol tidaklah dapat dianggap remeh. Tidak main-main, perkembangan Koprol tersebut telah menarik minat Yahoo untuk segera mengakuisisinya. Setelah diakuisisi jumlah pengguna Koprol meningkat 20 kali lipat, yaitu dari sebelumnya 75 ribu orang, kini mencapai 1,5 juta orang di seluruh dunia.Dari jumlah tersebut 80 % nya berasal dari Indonesia. Melihat apa yang telah terjadi pada Koprol tersebut, bukan tidak mungkin fenomena tersebut juga terjadi pada situs jejaring sosial anak bangsa lainnya.


Google, kompetitor dan sekaligus menjadi penyelamat Mozilla

by ridho zulandra 1 komentar


Kemerosotan tersebut dimulai sejak tahun 2008, Google yang sebagai penyumbang terbesar pemasukan Mozilla merilis browser sendiri, yaitu Google Chrome. Ternyata perkembangan dari Google Chrome sangat pesat. Dampaknya pendapatan Mozilla dari kerjasama tersebut mengalami penurunan, pada tahun 2008 sebesar 88 %, pada tahun 2009 menurun menjadi 86 %, dan pada tahun 2010 menurun lagi menjadi 84 %.

Namun ternyata Google masih mempunyai simpati terhadap Mozilla. Terbukti dari selain menjadi kompetitor, Google juga bisa menjadi penyelamat dari Mozilla. walaupun Google sudah mempunyai browser sendiri yang bisa dibilang cukup bagus, tapi Google masih mau merangkul Mozilla. Apabila Google tidak mau lagi menjalin kerjasama dengan Mozilla tidak akan berdampak begitu besar terhadap Google sendiri, karena Google Chrome besutan Google juga dapat mengalahkan Mozilla Firefox besutan Mozilla. Lembaga StatCounter mencatat Google Chrome dapat meraih pangsa pasar 25,7 % dan Mozilla Firefox hanya 25,2 %

Rangkulan Google tersebut diwujudkan dengan kerjasama yang masih tetap mau dijalin Google terhadap Mozilla. Kontrak kerjasaman tersebut ditandatangani pada tahun 2010 untuk setidaknya 3 tahun mendatang. Apabila tidak ada kerjasama tersebut maka Mozilla hanya tinggal 19,7 juta dollar AS


Followers