Kebanyakan film-film di Indonesia yang laku di pasaran adalah film bergenre horor. Film-film tersebut hanya mengedepankan sex yang dapat merusak moral bagi yang menontonnya. Namun, tidak begitu yang terjadi pada film Sang Pencerah. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini mengangkat tema tentang tata kehidupan sekarang ini hubungannya dengan ajaran-ajaran Islam.
Adapun produser dan penulis dari film ini adalah Raam Punjabi dan Hanung Bramantyo. Film ini dibintangi oleh sederetan bintang film yang ternama, yaitu Lukman Sardi, Yati Surachman, Slamet Rahardjo, Giring Ganesha, Ikranagara, Muhammad Ihsan Tarore, Zaskia Adya Mecca, Sujiwo Tejo, Dennis Andhiswara dan Agus Kuncoro.
Film ini menceritakan tentang kerisihan seorang pemuda berusia 21 tahun yang bernama Darwis Muda (Muhammad Ihsan Tarore) terhadap pelaksanaan ajaran Islam yang dinilainya telah mengarah kepada kesesatan. Sekembalinya dari Mekah, dia mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. diantaranya arah kiblat yang selama ini ada di Masjid Besar Besar Kauman, Yogyakarta selama ini bukanlah menghadap ke Ka'bah, melainkan melenceng beberapa derajat yang mengakibatkan arahnya berubah menjadi ke Afrika. Selain itu, tradisi sesajen yang disertakan dalam doa juga dianggapnya sebagai bentuk kemusyrikan.
Ahmad Dahlan tidaklah hanya diam semata atas hal-hal yang mengganggu pikirannya tersebut. Dia telah berusaha untuk mengusulkannya kepada imam besar dan penghulu setempat. Akan teta[pi, usulnya tersebut malah dianggap sebagai suatu pembangkangan terhadap apa yang telah diyakini selama ini.
Ahmad Dahlan terus melanjutkan dakwahnya dengan mendirikan langgar kidul yang betempat di samping rumahnya. Tenpat tersebut digunakan untuk dakwah dan mengajar mengaji bagi siapa yang mau mengikutinya. Akan tetapi, lagi-lagi apa yang di usahakan Ahmad Dahlan tidak disetujui dan dianggap sebagai tempat untuk mengajarkan aliran sesat hingga akhirnya tempat tersebut dibakar dan diamuk massa.
Ada banyak pelajaran yang terdapat di dalamnya. Selain nilai agama juga ada nilai moral. Film tersebut juga sangat diapresiasikan oleh seluruh masyarakat Indonesia mengingat sangat sedikitnya film yang bertemakan sejenis
Film yang dirilis tahun 2009 ini adalah salah satu film Indonesia yang menuai kesuksesan di dunia perfilman Indonesia. Terbukti dengan habisnya tiket-tiket yang dijual di bioskop-bioskop. Kesuksesan itu tidak datang begitu saja, melainkan dengan kerja sama dari semua pihak dimulai dari sutradara, produser sampai kepada bintang filmnya. Film ini juga menginspirasi banyak orang tentang bagaimana memiliki sifat nasionalis dan patriotis yang digambarkan melalui perjuangan para pahlawan pada zaman penjajahan dahulu. Para pahlawan rela untuk mengorbankan segalanya termasuk jiwa raganya sendiri demi apa yang cintai, yaitu tanah airnya.
Film yang disutradarai oleh Yadi Sugandi ini dibintangi oleh sederetan nama yang sudah terkenal, diantaranya adalah Lukman Sardi sebagai Amir, Donny Alamsyah sebagai Tomas, Darius Sinanthrya sebagai Marius, Zumi Zola sebagai Soerono, Teuku Rifnu Wikana sebagai Dayan, Rahayu Saraswati sebagai Senja, Rudy Wowor sebagai mayor Van Gaartner, dan Astri Nurdin sebagai Melati. Film ini menceritakan tentang 5 kadet yang mengikuti latihan militer di sebuah barak, Jawa Tengah yaitu Amir, Thomas, Dayan, Soerono dan Marius. Suatu ketika barak mereka tersebut diserang oleh tentara Belanda secara membabi buta. Semua kadet dalam barak tersebut berhasil dibunuh kecuali Amir, Thomas, Dayan dan Marius.
Sangat disayangkan sekali situasi pada saat itu tentara Indonesia sendiri sedang mengalami konflik pribadi dikarenakan perbedaan suku, budaya, agama dan tingkat sosial. Mengetahui perpecahan itu dimanfaatkan Belanda, para pejuang Indonesia tersebut kembali bersatu untuk memberantas tentara Belanda tersebut dengan menggunakan strategi gerilya.
Kesuksesan yang diperoleh film ini bukanlah terjadi begitu saja, melainkan melalui kerja keras dan kerja sama dari semua pihak. Dan bukan main-main, film ini melibatkan beberapa crew internasional Inggris Adam Howarth (Film Blackhawk Down). Film ini ditayangkan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Nasional, 17 Agustus 2009.
Film yang disutradarai oleh Gareth Evans ini patut diacungi jempol. Pasalnya film tersebut mampu memikat banyak penonton di tengah maraknya film Indonesia yang bergenre horor. Tercatat sekitar 7oo ribu tiket yang terjual untuk film tersebut. Selain itu, film tersebut juga dapat memperbaiki citra perfilman Indonesia yang sebelumnya hanya terfokus kepada film horor yang berbau sex semata. Film yang berjudul merantau tersebut dibintangi oleh sederetan nama yang cukup sering melintang di dunia perfilman, seperti Uwais Qorny, Sisca Jessica, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal, Ratna Galih dan Yayan Ruhian. Dan adapun produsernya adalah Ario Sagantoro.
Film ini mengangkat tema tentang dunia persilatan yang berasal dari Bukittinggi. Sang aktor (Yuda) yang diperankan oleh Uwais pergi merantau ke Jakarta di saat menginjak usia yang dewasa. Hal ini dilakukannya karena tradisi yang ada pada Ranah Minang mengajarkan seorang pria tidak akan dianggap apabila ia masih tinggal dengan orang tuanya saat usianya cukup dewasa.
Ketika berada di Jakarta Yudha bertemu dengan Astri (Sisca Jessica) yang menjadi incaran dari sebuah organisasi yang melakukan perdagangan wanita. Astri sendiri mempunyai seorang adik yang bernama Adit (Yusuf Aulia). Alih-alih ingin menjauhi hal yang demikian, Yudha malah jatuh hati kepada Astri. Yudha aktif dalam membantu pelarian dari Astri dan Adit dari organisasi yang dipimpin oleh Retger (Mads Koudal) yang merupakan seorang karateka. Perkelahian demi perkelahian dialami oleh Yudha dengan anak buah Retger dalam petualangan menyelamatkan Astri dan Adit .
Film ini berakhir dengan sad ending yang digambarkan dengan meninggalnya Yudha dikarenakan perkelahian dengan Retger. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam film ini selain nilai budaya. Di antaranya nilai moral dan peduli terhadap sesama orang yang digambarkan melalui kepedulian Yudha terhadap nasib Astri dan Adit walaupun mereka belum saling mengenal sebelumnya.
Saat sekarang ini sangatlah susah untuk menemukan orang yang memiliki rasa empati dan peduli terhadap lingkungan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya dan dirinya sendiri. Tidak pernah terbesit seikitpun tentang bagaimana tentang kehidupan orang lain, situasi dan kondisi sosial dan keadaan lingkungan sekitar. Hal itulah yang diangkat menjadi sebuah cerpen Robohnya Surau kami. Robohnya Surau Kami merupakan sebuah cerpen karya A.A. Navis yang terbit pertama kali pada tahun 1956.
Cerpen ini merupakan gambaran dari kebanyakan orang-orang Indonesia saat ini yang hanya peduli pada diri sendirnya sendiri, tanpa memikirkan orang lain sdikitpun. Apa yang dilakukannya seumur hidupnya hanyalah atas keinginan dirinya semata. Bagi yang sibuk atas kekuasaan dan jabatan, memenuhi hidupnya hanya untuk mengejar itu semua, bagi yang sibuk untuk beribadah, semasa hidupnya hanya dipenuhi dengan ibadah tanpa memikirkan keluarganya yang terbengkalai.
Tema tersebut diangkat melalui sebuah konflik batin yang terjadi pada kakek yang menjadi seorang garin sebuah Masjid tua yang tersinggung ketika mendengar bualan Ajo Sidi, seorang yang suka membual di desa tersebut. Ajo Sidi menceritakan tentang seorang yang taat beribadah yang bernama Haji Saleh. Akan tetapi semasa hidpunya dia tidak pernah peduli terhadap lingkungan persis seperti yang dilakukan oleh kakek tersebut. Pada saat di hari pembalasan, Haji Saleh yang sudah merasa yakin akan masuk surga terkejut karena dia malah dimasukkan ke tempat yang sebaliknya, yaitu neraka. Haji Salah bersama orang-orang yang masuk neraka lainnya melakukan protes terhadap Tuhan yang menganggap keliru atas tindakan Tuhan tersebut. Dengan penjelasan Tuhan, terjawablah sudah semua pertanyaan mereka dan baru menyesal setelahya.
Adapun penokohan dari cerpen Robohnya Surau Kami terdiri dari aku , Si Kakek, Ajo Sidi dan Haji Saleh. Tokoh aku dalam cerpen tersebut berperan untuk menceritakan alur cerpen dari awal sampai akhir. Tokoh Si Kakek adalah tokoh yang mengalami konflik dalam cerita sedangkan tokoh Ajo Sidi adalh tokoh yang tidak terlalu dimunculkan, akan tetapi sangat menentukan terhadap jalannya cerita cerpe tersebut. Tokoh Saleh berperan sebagai penggambaran tokoh yang diceritakan oleh Ajo Sidi.
Dalam cerpen ini latar tempat yang digunakan adalah surau, kota dan neraka. Sedangkan latar waktunya adalah saat sekarang ini dan saat yang sudah lampau saat si Kakek masih hidup menceritakan bualan Ajo Sidi. Latar suasana yang terdapat dalam cerpen ini adalah lingkungan sosial yang tidak peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.
Saat sekarang ini semakin banyak film film Indonesia yang mengangkat tema tentang kehidupan sehari – hari. Dibalik film – film tersebut terdapat ajaran yang secara tersirat tergambar dalam jalan ceritanya. Kebanyakan dari film – film tersebut diberi bumbu tambahan komedi agar tidak menimbulkan kejenuhan bagi penonton. Salah satunya adalah film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) yang disutradarai oleh Deddy Mizwar. Dalam film ini terdapat sederetan bintang film ternama seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja dan Tio Pakusadewo. Selain nama-nama tersebut,pemain yang lainnya adalah Reza Rahardian, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting dan Sonia. Adapun produsernya dari film ini adalah Zairin Zain dan ditulis oleh Musfar Yamin.
Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) merupakan film Inspiratif yang menceritakan tentang seorang tamatan sarjana manajemen yang bernama Muluk dan masih belum mendapatkan pekerjaan semenjak 2 tahun wisudanya. Adapun tokoh Muluk diperankan oleh Reza Rahardian.Dalam cerita tersebut diceritakan Muluk bertemu dengan seorang anak yang berprofesi sebagai pencopet bernama Komet. Sedangkan yang berperan sebagai Komet adalah Angga Putra. Kemudian Muluk melihat peluang pekerjaan dan Komet membawanya ke markas Komet. Di sana Muluk dipertemukan kepada bosnya yang bernama Jarot.
Muluk sangat terkejut karena yang ditemuinya adalah sebuah kelompok pencopet. Kelompok yang dipimpin Jarot tersebut terdiri dari anak-anakseumuran Komet. Akhirnya Muluk mencoba untuk mengubah pola pikir mereka agar bisa berhenti memcopet dan mencari pekerjaan lainnya, yaitu sebagai pengasong. Dalam usaha tersebut Muluk memnita bantuan kepada kedua temannya, Syamsul yang diperankan oleh Asrul Dahlan dan Pipit yang diperankan oleh Tika Bravani .Usaha yang dilakukan Muluk dan temannya ini mendapatkan banyak rintangan mulai dari pemikiran anak-nak tersebut yang menganggap lebih menyenangkan sebagai pencopet karena uang yang dihasilkan banyak tanpa diperlukan kerja keras sampai kepada tidak setujunya ayah Muluk mendapatkan uang dari hasil copet.
Dari film ini penonton diajak untuk menertawakan atas kebrobrokan yang terjadi di bangsa ini. Di film ini juga terdapat sindiran terhadap para penguasa karena anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan negara malah harus berjuang sendirian dengan cara mencopet, sementara para penguasa malah dengan enaknya hidup dalam kemewahan yang didapat dari hasil korupsi. Itulah sedikit gambaran tentang kehidpan masa sekarang yang diangkat menjadi sebuah film. Diharapkan semakin bermuculannya film-film lainnya yang bertemakan serupa.