SELAMAT DATANG DI PORTAL DARI MAHASISWA AWAK UNTUK INDONESIA                                                           DAPATKAN BERBAGAI TULISAN DAN OPINI TENTANG ISLAM, MINANGKABAU, NASIONAL DAN INTERNASIONAL, DUNIA MAHASISWA DAN YANG LAINNYA DI SINI                                                                                                                     

Film Merantau, Film yang Sukses di Tengah Gempuran Film Horor

by ridho zulandra 3 komentar


Film yang disutradarai oleh Gareth Evans ini patut diacungi jempol. Pasalnya film tersebut mampu memikat banyak penonton di tengah maraknya film Indonesia yang bergenre horor. Tercatat sekitar 7oo ribu tiket yang terjual untuk film tersebut. Selain itu, film tersebut juga dapat memperbaiki citra perfilman Indonesia yang sebelumnya hanya terfokus kepada film horor yang berbau sex semata. Film yang berjudul merantau tersebut dibintangi oleh sederetan nama yang cukup sering melintang di dunia perfilman, seperti Uwais Qorny, Sisca Jessica, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal, Ratna Galih dan Yayan Ruhian. Dan adapun produsernya adalah Ario Sagantoro.

Film ini mengangkat tema tentang dunia persilatan yang berasal dari Bukittinggi. Sang aktor (Yuda) yang diperankan oleh Uwais pergi merantau ke Jakarta di saat menginjak usia yang dewasa. Hal ini dilakukannya karena tradisi yang ada pada Ranah Minang mengajarkan seorang pria tidak akan dianggap apabila ia masih tinggal dengan orang tuanya saat usianya cukup dewasa.

Ketika berada di Jakarta Yudha bertemu dengan Astri (Sisca Jessica) yang menjadi incaran dari sebuah organisasi yang melakukan perdagangan wanita. Astri sendiri mempunyai seorang adik yang bernama Adit (Yusuf Aulia). Alih-alih ingin menjauhi hal yang demikian, Yudha malah jatuh hati kepada Astri. Yudha aktif dalam membantu pelarian dari Astri dan Adit dari organisasi yang dipimpin oleh Retger (Mads Koudal) yang merupakan seorang karateka. Perkelahian demi perkelahian dialami oleh Yudha dengan anak buah Retger dalam petualangan menyelamatkan Astri dan Adit .

Film ini berakhir dengan sad ending yang digambarkan dengan meninggalnya Yudha dikarenakan perkelahian dengan Retger. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam film ini selain nilai budaya. Di antaranya nilai moral dan peduli terhadap sesama orang yang digambarkan melalui kepedulian Yudha terhadap nasib Astri dan Adit walaupun mereka belum saling mengenal sebelumnya.


Sistem Demokrasi, cocokkah untuk Indonesia?

by ridho zulandra 2 komentar


Di dunia ini, ada banyak tata sistem pemerintahan yang ada, seperti sistem monarchi, demokrasi dan yang lainnya. Setiap sistem-sistem tersebut pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Sistem-sistem tersebut diterapkan sesuai kondisi dan situasi yang ada di negaranya masing-masing, seperti sistem monarchi yang diterapkan Inggris. Setiap negara bisa saja menerapkan suatu sistem yang sama dengan negara yang lainnya, seperti sistem demokrasi yang diterapkan oleh Indonesia dan Amerika. Akan tetapi, untuk Indonesia sendiri sebenarnya sistem demokrasi belumlah dianggap sebagai sistem yang tepat.

Sistem demokrasi di Indonesia hanya bersifat menguntungkan bagi segelintir orang. Dalam sistem demokrasi suara yang menang adalah suara yang mendapatkan paling banyak dukungan. Hal itu sebenarnya sudah benar, tapi sayangnya dalam konteks di negara indonesia sekarang ini hal itu masih belum bisa menyalurkan aspirasi masyarakat. Karena kebanyakan suara yang menang itu mendapatkan dukungan dengan cara dibeli. Telah banyak fakta yang membuktikan hal tersebut, contohnya saja yang terjadi pada proses pemilu. Para calon yang memiliki banyak uang dengan mudahnya memenangkan jumlah suara karena mereka menyuap setiap pemilih dengan uang. Padahal belum tentu calon tersebut layak menjadi yang terpilih. Bisa saja masih ada calon yang lebih baik, tapi malah kalah karena tidak melakukan praktik pembelian dukungan tesebut.

Selain itu, pelaksanaan sistem demokrasi juga menjadi pendorong terhadap tindakan korupsi. Hal tersebut terjadi karena pelaksanaan demokrasi tersebut memakan banyak biaya. Misalnya pada pemilihan Capres dan Cawapres. Biaya yang dikeluarkan oleh salah seorang calon, yaitu Jusuf Kalla untuk mengikuti pemilu 2009 adalah sebesar Rp 1.2 triliun dan diprediksi akan meningkat 10 kali lipat pada pemilu berikutnya, yaitu Rp 12 triliun. Itu masih dari salah seorang calon, belum lagi calon-calon lainnya yang jumlahnya yang tidak sedikit. Andaikan saja apabila uang yang sebanyak itu digunakan untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Berapa banyak kemajuan yang akan timbul? Dan dampaknya selanjutnya apabila calon tersebut terpilih, apakah yang pertama kali yang diusahakannya? Tentu saja berupaya agar uang yang mereka gunakan sebelumnya kembali. Dan darimanakah uang tersebut berasal?

Itu hanyalah dua dari sekian banyak alasan bahwa sistem demokrasi tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia dan masih banyak yang lainnya. jadi, apa salahnya jika indonesia mencoba sistem yang lain?


Kebenaran Al Quran dan Fakta Ilmiah Alam Semesta

by ridho zulandra 2 komentar

Tiada lagi keraguan yang terdapat dalam Al Quran. Seiring dengan kemajuan iptek, semakin banyak fakta terkuak tentang kebenaran Al Quran. Mulai dari ayat Al Quran tentang biologis makhluk hidup sampai kepada detailnya alam semesta. Teori-teori tentang alam semesta yang baru-baru ini berhasil ditemukan oleh para ahli sebenarnya sudah ada dijelaskan dalam Al Quran yang sudah sejak beribu tahun yang lalu diturunkan.

Akhir-akhir ini para ahli menyepakati teori Big Bang yang menyebutkan bahwa alam semesta dahulunya merupakan suatu titik materi yang memiliki massa yang tak terhingga. Suatu waktu titik tersebut meledak dengan kekuatan yang maha dahsyat dan terciptalah alam semesta yang sekarang kita tinggali ini. Ledakan itulah yang dinamai Big Bang (Dentuman Besar). Teori ini tidaklah begitu saja diterima oleh para ahli melainkan dengan fakta-fakta yang mendukungnya. Salah satunya adalah dengan ditemukannya radiasi latar kosmis. Radiasi ini dipercaya sebagai peninggalan radiasi Big Bang karena terdapat merata di seluruh penjuru alam semesta dan belum pernah ditemukan sebelumnya seperti radiasi-radiasi biasa yang lain. Selain itu, bukti kebenaran teori Big Bang yang lainnya adalah ditemukannya sifat alam semesta mengembang. Dari sifat alam semesta mengembang itu dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin jika alam semesta ini berasal selain dari sebuah ukuran yang sangat kecil sebelum mengembang menjadi ukuran yang sekarang ini.

Teori Big bang tersebut baru diakui para ahli akhir-akhir ini, semenjak ditemukannya radiasi latar kosmik dan sifat alam semesta mengembang. Padahal, hal itu sebenarnya sudah terdapat dalam Al-Quran yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Namun tidak ada yang memperhatikan kebenaran-kebenaran Al-Quran tersebut.

Seperti yang dijelaskan dalam ayat Fushilat ayat 11

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Dari ayat di atas jelaslah bahwanya dahulu alam semesta berasal dari satu titik (langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu). Kemudian titik tersebut mengalami dentuman yang maha dahsyat dikarenakan daya tarik yang begitu kuat dari titik tersebut tidak dapat ditampung lagi dengan ukurannya yang begitu kecil. Akibat dentuman tersebut terciptalah alam semesta ( kemudian kami pisahkan antara keduanya). Dan setelah alam semesta tercipta, kemudian Allah menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya (dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup).

Selain ayat tersebut, ada juga ayat yang menjelaskan tentang ledakan Big Bang, yaitu ayat Ar Rahman ayat 37

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak”. (Ar-rahman:37)

Dari ayat tersebut dijelaskan tentang Big Bang yang berupa sebuah dentuman yang berbentuk seperti bunga mawar (menjadi merah mawar)


Hak Asasi Manusia, instrumen untuk memperkuat pornografi dan pornoaksi

by ridho zulandra 2 komentar

HAM (Hak Asasi Manusia) merupakan hak yang dipunyai seseorang sejak ia lahir yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa dan wajib dihormati oleh setiap orang. HAM dimiliki oleh setiap orang tanpa terkecuali, baik miskin atau kaya, muda atau tua dan dari yang tidak berpangkat sampai yang memiliki pangkat jabatan yang tinggi. HAM terdiri dari hak asasi pribadi, hak asasi berpolitik, hak asasi hukum, hak asasi ekonomi, hak asasi peradilan dan hak asasi sosial budaya. salah satu yang terdapat dalam hak asasi pribadi adalah hak untuk berekspresi. Setiap orang bebas untuk melakukan apa saja dan bagaimana saja untuk mengekspresikan dirinya asalkan tidak mengganggu HAM yang dimiliki orang lain. Namun, sayangnya kebanyakan orang menyalahgunakan kebebasan berekspresi tersebut. Mereka sering melakukan aksi pornografi dan pornoaksi dengan mengatakan bahwa itu adalah hak asasi mereka.

Jelas-jelas tindakan tersebut sangat tidak sesuai dari koridor yang diharapkan. Seharusnya HAM diciptakan untuk membantu penjalanan kaidah-kaidah moral dan agama. HAM tidaklah sepenuhnya dapat dilakukan secara bebas. Harus ada batasan-batasan dari HAM dengan berlandaskan pada aspek-aspek kaidah moral dan agama. Semua ini terjadi karena HAM yang ada sekarang ini diambil dari HAM yang ada pada negara liberalisme tanpa difilter terlebih dahulu.

Sebenarnya telah ada langkah dari pemerintah agar pornografi dan pornoaksi tidak merajalela. Di antaranya adalah dengan merancang RUU tentang pronografi dan pronoaksi. Namun, belum saja RUU tersebut menjadi UU, telah banyak terdapat kontraversial di kalangan beberapa orang. Salah satunya oleh salah seorang tokoh LSM, Nurdiana Rasidin, S.H., M.H. yang mengatakan negara dinilai telah bertindak terlalu jauh dalam privasi kehidupan warga negaranya dan juga telah melakukan pemasungan hak-hak sipil. Dalam hal ini, HAM dijadikan sebagai senjata untuk menolak pengekangan terhadap pornografi dan pornoaksi.

Padahal tindakan pronografi dan pornoaksi tersebut jelas-jelas merugikan setiap orang. Riset menunjukkan bahwa maraknya pornografi dan pronoaksi akan semakin menggiring orang ke dalam ambang kehancuran. Pihak yang paling dianggap sebagai korban yaitu anak-anak. Bisa dibayangkan betapa kerusakan kinerja otak yang terjadi pada anak-anak akibat pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan bahkan dampak tersebut lebih berbahaya daripada dampak yang ditimbulkan oleh narkoba. Yang diserang oleh pornografi dan pornoaksi adalah sistem kerja otak si anak karena otak anak dapat mengalami kecanduan akan hal tersebut. Dan apabila itu terjadi, keberlangsungan suatu negara ke depannya dapat terancam. Selain dampak pada anak tersebut, dampak lainnya yang terjadi adalah dapat memacu meningkatnya kriminalitas dan hilangnya moral di kalangan masyarakat. Seperti kasus pemerkosaan yang akhir-akhir ini marak terjadi.


Kerajaan Pagaruyung, Kerajaan Emas Minangkabau

by ridho zulandra 3 komentar


Sudah hal yang diketahui umum bahwa pada zaman dahulu Indonesia mempunyai sejumlah kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh sampai kepada Kerajaan Sekar Fak Fak di Papua. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut yang memiliki kekuatan yang cukup kuat adalah Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Demak. Namun, pernahkah anda mendengar bahwa sebenarnya masih ada kerajaan yang memiliki kekuatan yang tidak diragukan lagi, tapi anda sendiri jarang mendengarnya? Itulah yang terjadi pada Kerajaan Pagaruyung.

Kerajaan Pagaruyung adalah Kerajaan yang wilayah kekuasaannya meliputi Provinsi Sumatera Barat dan sekitarnya. Nama Pagaruyung diambill diambil dari daerah tempat kerajaan tersebut berada, yaitu daerah Pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh Adityawarman pada tahun 1347 seperti yang tertulis pada bagian belakang Archa Amoghapasa. Adityawarman adalah putra dari Mahesa Anabrang, yang merupakan panglima perang Kerajaan Sriwijaya dan Dara Jingga, putri dari Kerajaan Dharmasraya.

Adityawarman awalnya hanya merupakan seorang raja bawahan dari Kerajaan Majapahit yang bertugas untuk menguasai daerah-daerah di Sumatera. Namun, dalam perkembangannya Adityawarman berusaha untuk melepaskan diri. Setelah mengetahui hal tersebut, Kerajaan Majapahit mengutus bala tentara untuk menumpas Adityawarman dan terjadi peperangan di daerah Sibusuk, Padang. Konon daerah ini dinamakan Sibusuk karena banyak terdapat mayat akibat peperangan terssebut. Dan akhirnya tentara dari Adityawarman berhasil mengusir tentara dari Jawa tersebut.

Setelah masa Adityawarman, dilanjutkan oleh pemerintahan masa Ananggawarman. Pada masa pemerintahan kedua raja ini, Kerajaan Pagaruyung memasuki masa kejayaannya. terbukti dengan bertumbuh pesatnya kemakmuran masyarakat pada masa itu dan juga berkembangnya usaha pertanian rakyat secara significant. Selain itu, daerah Sumatera Barat juga sempat menjadi pusat pendulangan dan perdagangan emas. Adapun bukti dari keemasan Kerajaan Pagaruyung lainnya adalah berkembangnya jalinan kerjasama antara Kerajaan Pagaruyung dengan kerajaan-kerajaan lainnya, seperti Kerajaan Talu di Pasaman Barat, Kerajaan Kumpulan di Pasaman Timur, Kerajaan Panai di Padang Lawas dan puluhan kerajaan lainnya. Bahkan kerjasama itu tidak hanya terjalin dengan kerajaan-kerajaan yang ada di daerah Sumatera Barat semata, melainkan juga kepada Kerajaan di luar Sumatera Barat, seperti Kerajaan Seribu Dolok di Tapanuli, Kerajaan Gunung Sahilan di Riau, Kerajaan Lubuk Kepayang di Jambi, Kerajaan Sungai Limau di Bengkulu, Kerajaan Gowa Tallo di Sulawesi Selatan, Kerajaan Sumbawa dan Ternate dan juga Kerajaan Negeri Sembilan di Malaysia.

Pengaruh Hindu-Buddha pernah memasuki wilayah Kerajaan ini pada abad ke 13, namun kurang menghasilkan dampak yang begitu significant. Selain itu, Islam juga memasuki Kerajaan ini dan diterima dengan baik oleh masyarakatnya. Terbukti dengan agama yang mayoritas dipeluk oleh kebanyakan masyarakat di wilayah ini sampai sekarang adalah agama Islam dan terciptanya sebuah pepatah yang berbunyi "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah", yang artinya adat berlandaskan pada syarak (agama), (agama berlandaskan kepada kitabullah (Al-Quran).

Kerajaan ini memasuki masa keruntuhannya sebelum perang paderi. Pada masa itu kaum adat di kawasan Pagaruyung (bangsawan) berhasil dibujuk Belanda dengan ketentuan Belanda akan menolong kaum adat untuk memerangi kaum Paderi, syaratnya Belanda mempunyai hak atas Pagaruyung tersebut.


Followers