SELAMAT DATANG DI PORTAL DARI MAHASISWA AWAK UNTUK INDONESIA                                                           DAPATKAN BERBAGAI TULISAN DAN OPINI TENTANG ISLAM, MINANGKABAU, NASIONAL DAN INTERNASIONAL, DUNIA MAHASISWA DAN YANG LAINNYA DI SINI                                                                                                                     

The Kmers Rayakan Ulang Tahun ke 10 dengan Menggalang Bantuan untuk Pesisir Selatan

by ridho zulandra 0 komentar


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa juga The Kmers sudah 10 tahun mendukung Tim Kebanggaannya. The Kmers selaku suporter Semen Padang FC sudah 10 tahun selalu menemani Tim Urang Awak tersebut berlaga di lapangan baik di kandang maupun di tandang. Tercatat tanggal 14 November 2011 The Kmers merayakan hari jadinya tersebut.

Sebagai suporter yang peduli terhadap keadaan di luar lapangan, The Kmers merayakan ulang tahunnya tersebut dengan menggalang bantuan terhadap korban banjir di Pesisr Selatan. Hal itu dikarenakan tak lama ini Pesisir Selatan mengalami musibah yang cukup besar, yaitu banjir. Banyak rumah warga yang hancur dikarenakan banjir tersebut. Dengan demikian diharapkan paradigma yang ada pada masyarakat akhir-akhir ini, yaitu suporter tim sepak bola hanya dapat bersorak di lapangan dan melakukan kerusuhan di luar lapangan dapat dihapuskan. The Kmers membuktikan bahwa tidak semua suporter yang berlaku demikian.



Bantuan untuk korban banjir Pesisir Selatan tersebut digalang dengan cara meminta sumbangan kepada pengguna jalan di beberapa lokasi, yaitu di Pdang dan di luar Padang. Untuk kota Padang ada 5 titik lokasi, yaitu di perempatan Telkom di Padang Baru, Olo, Lubuk Kilangan, Simpang Haru dan Aur Duri. Sebelumnya The Kmers sudah meminta izin kepada Satlantas Polresta Padang untuk sedikit keramaian ketika penggalangan bantuan tersebut karena The Kmers tidak ingin niat baik tersebut dilakukan tanpa prosedur yang jelas. Di lima titik tersebut, beberapa anggota The Kmers menyapa pengguna jalan dan menyodorkan sebuah kotak kardus yang bertuliskan "The Kmers peduli Banjir Pessel".

Setelah panggalangan tersebut selesai, bantuan akan dikirim langsung oleh The Kmers pada tanggal ulang tahunnya, yaitu 14 November 2011. Tercatat bantuan yang terkumpul dari penggalangan di Kota Padang sebesar uang tunai Rp 5 Juta rupiah dan 4 bal baju bekas. Namun, semua itu belum dihitung dengan yang terkumpul di luar Kota Padang. Apabila sudah di hitung totalnya, bantuan yang tidak sedikit tersebut dirasa cukup untuk sedikit meringankan beban saudara kita yang tertimpa musibah di Pesisir Selatan.


Cerpen Monumental, Robohnya Surau Kami

by ridho zulandra 2 komentar

Saat sekarang ini sangatlah susah untuk menemukan orang yang memiliki rasa empati dan peduli terhadap lingkungan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya dan dirinya sendiri. Tidak pernah terbesit seikitpun tentang bagaimana tentang kehidupan orang lain, situasi dan kondisi sosial dan keadaan lingkungan sekitar. Hal itulah yang diangkat menjadi sebuah cerpen Robohnya Surau kami. Robohnya Surau Kami merupakan sebuah cerpen karya A.A. Navis yang terbit pertama kali pada tahun 1956.

Cerpen ini merupakan gambaran dari kebanyakan orang-orang Indonesia saat ini yang hanya peduli pada diri sendirnya sendiri, tanpa memikirkan orang lain sdikitpun. Apa yang dilakukannya seumur hidupnya hanyalah atas keinginan dirinya semata. Bagi yang sibuk atas kekuasaan dan jabatan, memenuhi hidupnya hanya untuk mengejar itu semua, bagi yang sibuk untuk beribadah, semasa hidupnya hanya dipenuhi dengan ibadah tanpa memikirkan keluarganya yang terbengkalai.

Tema tersebut diangkat melalui sebuah konflik batin yang terjadi pada kakek yang menjadi seorang garin sebuah Masjid tua yang tersinggung ketika mendengar bualan Ajo Sidi, seorang yang suka membual di desa tersebut. Ajo Sidi menceritakan tentang seorang yang taat beribadah yang bernama Haji Saleh. Akan tetapi semasa hidpunya dia tidak pernah peduli terhadap lingkungan persis seperti yang dilakukan oleh kakek tersebut. Pada saat di hari pembalasan, Haji Saleh yang sudah merasa yakin akan masuk surga terkejut karena dia malah dimasukkan ke tempat yang sebaliknya, yaitu neraka. Haji Salah bersama orang-orang yang masuk neraka lainnya melakukan protes terhadap Tuhan yang menganggap keliru atas tindakan Tuhan tersebut. Dengan penjelasan Tuhan, terjawablah sudah semua pertanyaan mereka dan baru menyesal setelahya.

Adapun penokohan dari cerpen Robohnya Surau Kami terdiri dari aku , Si Kakek, Ajo Sidi dan Haji Saleh. Tokoh aku dalam cerpen tersebut berperan untuk menceritakan alur cerpen dari awal sampai akhir. Tokoh Si Kakek adalah tokoh yang mengalami konflik dalam cerita sedangkan tokoh Ajo Sidi adalh tokoh yang tidak terlalu dimunculkan, akan tetapi sangat menentukan terhadap jalannya cerita cerpe tersebut. Tokoh Saleh berperan sebagai penggambaran tokoh yang diceritakan oleh Ajo Sidi.

Dalam cerpen ini latar tempat yang digunakan adalah surau, kota dan neraka. Sedangkan latar waktunya adalah saat sekarang ini dan saat yang sudah lampau saat si Kakek masih hidup menceritakan bualan Ajo Sidi. Latar suasana yang terdapat dalam cerpen ini adalah lingkungan sosial yang tidak peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.







ITS bersama ITB mendirikan dua Institut baru

by ridho zulandra 7 komentar


Lulusan sarjana teknik dan sains yang masih sedikit, yaitu 4 % dari target 10 %. Hal itulah yang mendorong Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB)untuk mendirikan dua Institut baru yaitu Institut Teknologi Kalimantan dan Institut teknologi Sumatera. Untuk masalah di mana tepatnya lokasi dari dua Institut baru tersebut masih belum ada kepastian, tetapi untuk Institut Teknologi Kalimantan kandidat terkuatnya adalah di Propinsi Kalimantan Timur, sedangkan Institut Teknologi Sumatera adalah di Propinsi Sumatera Selatan.

Dipilihnya Kalimantan dan Sumatera sebagai lokasi dua Institut baru tersebut karena dinilai banyak SDM yang berkualitas terdapat di lokasi tersebut tetapi belum ada wadah yang dapat menampungnya. Setelah nanti keduanya berdiri diharapkan dapat menjadi Institut besar di Indonesia seperti ITS dan ITB. Dengan begitu, calon mahasiswa dari Kalimantan dan Sumatera tidak perlu susah-susah menyeberang ke pulau Jawa.

Awalnya pendirian dua Institut baru ini dikerjakan bersama-sama oleh ITS dan ITB yang berarti adanya pembagian kerja. Namun, karena pembagian kerja dinilai tidak efektif dan malah membuat susah, maka ditetapkanlah ITS fokus kepada pendirian Insttitut Teknologi Kalimantan, sedangkan ITB fokus kepada pendirian Institut Teknologi Sumatera. Adapun prosesnya dimulai dari uji kelayakan yang sudah dilakukan tahun sekarang, dilanjutkan dengan perencanaan pada tahun baru mendatang. Diharapkan pada tahun 2014 kedua Institut ini sudah bisa berjalan dan menerima mahasiswa barunya. Sedangkan jurusan atau bidang studi apa yang akan dibuka disesuaikan dengan kebutuhan dari daerahnya masing-masing.

Dari ITS sendiri, telah diadakan Forum Group Dicussion (FGD) yang diadakan di Balikpapan dan Samarinda. Di dalam FGD tersebut, tim Feassibility Study (FS) menyebutkan lokasi di Kalimantan Selatan yang paling cocok untuk dibangun Institut ini adalah di Balikpapan. Hal ini berdasarkan pertimbangan banyak faktor, diantaranya faktor budaya yang ada di sana, kebutuhan akan pendidikan, pertumbuhan penduduk, masyarakat usia produktif, kondisi sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan dan kelayakan lahan, dan yang lainnya. Selain hal-hal tersebut, faktor yang juga diperhatikan adalah daerah mana yang belum terdapat perguruan tinggi negeri.

FGD sendiri juga menyebutkan ada 8 jurusan yang akan didirikan pada tahap awal, yaitu dalam bidang teknik terdiri dari industri, sipil, elektro dan mesin, dalam bidang sains terdiri dari matematika, fisika dan kimia. Masing-masing jurusan akan menerima 40 mahasiswa baru dengan dosen 6 orang.


Permasalahan negara? Seandainya saya jadi presiden

by ridho zulandra 3 komentar

Dalam suatu kelompok pasti ada seorang yang ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin itulah yang bertugas untuk mengatur bagaimana jalannya kelompok dan memikirkan langkah-langkah yang diambil agar kedepannya kelompok tersebut berjalan sesuai rencana. Namun tidak semua pemimpin yang telah ditunjuk mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik. Kebanyakan dari para pemimpin gagal menyelesaikan masalah yang ada di kelompok tersebut. Begitulah yang terjadi di Indonesia sekarang. Sang presiden tidak mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Kebodohan dan kemiskinan merajalela di mana-mana, sementara pejabat-pejabat di bawahnya malah korupsi hanya untuk kekayaan pribadi semata.

Seandainya saya jadi presiden, kebijakan pertama yang saya ambil adalah mengutamakan masalah pendidikan bagi seluruh rakyat. Dengan begitu seluruh rakyat dapat mengenyam pendidikan baik dari tingkat SD, SMP, SMA sampai kepada perguruan tinggi. Kemiskinan terjadi karena rakyat tidak mempunyai penghasilan yang cukup dikarenakan tidak adanya pekerjaan yang layak. Hal itu terjadi karena rakyat itu sendiri belum siap memasuki dunia kerja karena tidak mempunyai dasar pendidikan dan keahlian yang dibutuhkan. Apabila rakyat mempunyai pendidikan, pastinya akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan tersebut dan pekerjaan yang dilakukan juga akan lebih berkualitas.

Pendidikan yang dimaksud tentunya bukan hanya pendidikan yang bersifat materi pengetahuan semata, melainkan juga pendidikan moral. Moral yang bagus akan memperkuat seseorang untuk tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan moral itu sendiri. Sehingga akan mengurangi jumlah tindakan korupsi dikalangan pejabat-pejabat tingkat bawah presiden. Berkurangnya jumlah korpusi berarti berkurangnya uang negara yang hilang. Dengan begitu, akan semakin banyak anggaran dana yang tersedia untuk masalah-masalah lainnya seperti untuk pembangunan, kesehatan, dan yang lainnya. Dari hal tersebut bukan tidak mungkin kesejahteraan dengan sendirinya tercipta.

Dari hal di atas, terbukti bahwa segala permasalahan yang timbul berawal dari kurangnya pendidikan. Jadi, seandainya saya jadi presiden yang paling saya utamakan adalah pendidikan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia dari jenjang yang paling rendah sampai ke jenjang yang paling tinggi.


Murahnya Harga Diri Bangsa ini, Siapa Yang Harus disalahkan?

by ridho zulandra 2 komentar


Semakin hari semakin banyak kondisi menyedihkan terjadi di bangsa ini. Semakin banyak hal yang dapat membuat hati tersayat ketika melihatnya. Dimulai dari berbagai masalah korupsi yang tak kunjung selesai, terus menurunnya tingkat kesejahteraan mesyarakat, sampai kepada tidak adanya lagi rasa cinta tanah air pada bangsa sendiri. Akibatnya semakin mudahlah harga diri bangsa diperjualbelikan hanya dengan materi semata. Namun, siapakah yang bertanggung jawab atas semua itu? Siapakah yang harus disalahkan? Apakah hanya pemerintah saja? Ataukah hanya masyarakat itu sendiri?
Jika dilihat dari sisi pemerintah sendiri, telah ada berbagai usaha yang dilakukan. Pemerintah telah berupaya agar rasa cinta tanah air tetap melekat pada diri dari wagranya. Seperti contohnya saja ditetapkannya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional dan lainnya. Namun apakah semua itu berhasil? Karena kenyataannya tetap saja ada tindakan-tindakanyang rela menjual harga diri bangsa demi kepentingan sendiri. Apakah usaha pemerintah tersebut salah?
Yang menjadi penyebabnya adalah tidak adanya keseriusan dari pemerintah. Pemerintah terlihat hanya setengah-setengah dalam pelaksanaanya. Hari Pahlawan Nasional hanya diperingati hanya sebagai formalitas belaka. Tidak ada nilai-nilai yang melekat dari peringatan tersebut. Masyarakat hanya adiberi pengetahuan bahwa tanggal 10 november adalah hari pahlawan tanpa adanya tindak lanjut dalam usaha untuk meningkatkan kecintaan tersebut. Semuanya tidak akan berhasil jika dilakukan hanya dengan setengah-setengah. Dan itu hanyalah satu dari beberapa ketidakseriusan usaha pemerintah, masih banyak lagi yang ketidakseriusan yang lainnya.
Dari masyarakat sendiri, dahulu Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang fanatik untuk negaranya. Mereka rela melakukan apa saja bahkan harus mengorbankan dirinya sendiri untuk bangsa. Sebagai contohnya pada zaman penjajahan, ribuan pejuang rela mati untuk Indonesia. Tapi sedikit demi sedikit semua itu dipaksa untuk dihapuskan. Rasa cinta tanah air terus dikikis oleh beratnya rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Hingga akhirnya semua itu hilang dan bahkan malah sebaliknya. Harga diri bangsa rela dipejualbelikan. Misalnya saja ketika Sea Games 2011 yang dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Beberapa dari warga Indonesia malah mendukung Thailand ketika bertanding melawan Indonesia. Mereka mengakui mendukung Thailand karena dibayar dengan baju dan uang. Sekarang yang perlu dipertanyakan semudah itukah untuk menjual bangsa dihadapan bangsa itu sendiri?
Dari hal di atas dapatlah kita simpulkan bahwa kesalahan atas murahnya harga diri bangsa ini tidak dapat dilimpahkan hanya pada satu pihak saja karena semuanya memegang peran penting dalam proses menimbulkan rasa cinta tanah air. Usaha-usaha yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil jika tidak ada keterlibatan kedua belah pihak.


Followers